KPU DIY dan LKiS Ajak LSM, Organisasi Kepemudaan, serta Ormas se-DIY Diskusi Bahas Demokrasi Istimewa
Yogyakarta, diy.kpu.go.id – Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta (KPU DIY) bekerja sama dengan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) mengajak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Kepemudaan, dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) mendiskusikan pelaksanaan pemilu dan demokrasi di DIY, Rabu (11/03/2026), di Joglo Demokrasi KPU DIY. Forum ini berkonsep ngobrol santai namun bermakna, memadukan suasana ngabuburit dengan refleksi kebangsaan. Diskusi tersebut diberi tema “Ngasah Roso (Ngabuburit Berfaedah, Kanggo Negoro), Menakar Demokrasi dari Titik Nol Yogyakarta”.
Menurut Ketua KPU DIY, Ahmad Shidqi, melalui diskusi ini KPU DIY ingin mengajak masyarakat untuk tidak semata membahas nilai demokrasi tapi juga mengasah rasa cinta pada negara. Untuk itu, KPU DIY mengajak peserta untuk membaca demokrasi saat ini dari titik nol, yang dalam konteks ini adalah pelaksanaan pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1951. Dimana Pemilu lokal tersebut pertama dilakukan di Minahasa dan Yogyakarta.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Pelaksana LKis, Tri Noviana. Novi juga mengatakan bahwa diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh KPU DIY dan LKiS untuk meningkatkan ketahanan demokrasi di Indonesia dan DIY pada khususnya.
Dalam kegiatan ini, hadir dua narasumber yang membahas demokrasi dari perspektif generasi muda dan sejarah demokrasi di Yogyakarta. Pemaparan terkait “Keistimewaan DIY dalam Proses Demokrasi di Indonesia (Pemilu 1951 dan 1955)” disampaikan oleh Uji Nugroho Winardi, dosen dari Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada. Dalam paparannya Uji menceritakan pelaksanaan Pemilu 1951 dan Pemilu 1955 berdasarkan risetnya bersama tiga penulis Buku “Jogja Memilih” lain. Dari pengalaman sejarah diketahui kalau pemilu merupakan bagian dari cita-cita kemerdekaan dan tujuan utama bernegara, yakni mengembalikan kedaulatan setutuhnya kepada rakyat.
Sementara kondisi politik terkini, disorot dari sudut pandang generasi Z oleh Safiera Zulykha Ajeng F.N., influencer media sosial dan penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 Yogyakarta. Ajeng menyampaikan materi bertema “Pandangan Anak Muda (Generasi Z) terhadap Proses Demokrasi di DIY.” Ajeng mengajak para peserta diskusi yang berasal dari generasi Z untuk ikut menyampaikan kebingungannya pada “pengalaman Pemilu pertama-nya” di 2024 silam. Selanjutnya Ajeng juga menyampaikan beberapa masukan terkait penyajian pesan kepemiluan di media sosial agar dapat lebih diterima oleh generasi muda.
Menutup diskusi, Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM Sri Surani yang dalam kesempatan ini bertindak sebagai moderator menegaskan komitmen KPU DIY untuk merawat demokrasi melalui pelaksanaan Pendidikan pemilih, baik pada saat pelaksanaan tahapan pemilu ataupun di masa non tahapan. Ke depan, KPU DIY akan terus mengajak masyarakat dan para pegiat demokrasi di DIY untuk bersama-sama menakar dan meningkatkan kualitas demokrasi di Yogyakarta agar tercapai tujuan utama pelaksanaan pemilu untuk menjadikan politik dan kekuasaan sebagai alat melayani kepentingan rakyat.