SEBUAH EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMILU SERENTAK

Dijumpai sebelum persiapan MILAD Muhammadiyah 15 November 2019, Dr. Ir Gunawan Budiyanto, M.P Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 2017 ini berkenan menyampaikan pandangan-pandangan beliau untuk mengevaluasi penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta adalah Perguruan Tinggi Swasta terkemuka yang kampus terpadunya berkedudukan di Jalan Brawijaya, Kasihan, Bantul. Menjadi Universitas yang unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan nilai-nilai Islam untuk kemaslahatan umat menjadi tujuan utamanya.

Kondisi di TPS
Anggota Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia Prov. DIY ini melihat Pemilu 2019 secara teknis adalah Pemilu yang paling merepotkan, dirinya berpendapat tersebut karena sempat mengamati penyelenggaraan Pemungutan dan Penghitungan Suara di tempat dirinya tinggal di Gondomanan Kota Yogyakarta, secara praktis dirinya dapat membandingkanya dengan penyelenggaraan Pemilu sebelumnya karena pria Jawa yang juga menjadi anggota International Socienty For Horticulture Science (ISHS) ini sempat memanggul tugas sebagai KPPS.

Masih dilihatnya beberapa TPS dengan kondisi para penyelenggara KPPS-nya (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara.red) terlihat secara emosional cukup tegang “seperti orang asing, tidak banyak bicara” ungkap Rektor bersahaja yang memulai kariernya sejak Maret 1989 ini. Hal ini adalah indikasi dari tingginya beban kerja sebagai penyebabnya, kondisi KPPS pada penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 kali ini berbeda dengan penyelenggaraan Pemilu 2014 dan 2009 yang lebih santai karena beban kerja yang lebih rendah. “Sekarang mereka tampak ketakutan akan melakukan tindakan yang salah” ujar pria kelahiran tahun 1960 ini. Meskipun demikian dirinya masih sangat bersyukur karena usia KPPS di lingkungannya relative muda. Seluruh anggota KPPS tidak lepas dari perang berita di media sosial. Ini menambah beban bagi KPPS secara psikologis.

Pemilih
Bagi kota pelajar seperti Jogja, Bandung, Malang, perhatian khusus bagi pemilih yang pindah memilih harus ditingkatkan. Bimbingan teknis kepada KPPS sebagai pelayan utama pada pemungutan suara agar lebih diintensifkan. Karena dirinya melihat respon positif mahasiswanya pada partisipasi Pemilu ini cukup tinggi. Kini, antusiasme mahasiswa dalam berpartisipasi sangat tinggi jika dibandingkan dengan mahasiswa masa lampau. Sehingga perlu dipastikan agar hak mereka dapat diakomodir secara keseluruhan. Meski UMY telah menetapkan kebijakan meliburkan mahasiswanya dari jadwal perkuliahan selama 2 hari, namun beliau menyatakan bahwa mahasiswa banyak yang memilih tinggal di DIY dan menggunakan haknya di TPS-TPS seputar wilayah domisilinya. Pak Gunawan mencatat setidaknya ada 1800an mahasiswa yang mengurus A5. Sosialisasi mengenai hak surat suara yang diberikan kepada mahasiswa selama ini masih perlu ditingkatkan pula. Di DIY, beliau mengkalkulasi total mahasiswa pendatang berjumlah lebih dari 500 ribu pemilih sehingga ini angka yang cukup besar untuk mendapat perhatian ekstra dari KPU. Agar antusiasme mereka tidak tercederai dengan fasilitasi yang baik dari penyelenggara.

Pencalonan
Anggota Perkumpulan Agroteknologi/Agroekoteknologi Indonesia menyatakan bahwa mahasiswanya terkonsentrasi untuk benar-benar mencermati hanya kepada calon presiden dan wakil presiden ( Pilpres. Red). Sedangkan untuk Pemilu legislatif prevelensi pilihan mereka cenderung terindikasi acak. Catatannya adalah, potensi mahasiswa terpapar oleh informasi yang tidak benar akan kedua calon masih saja dijumpai. “disinformasi mengungguli informasi yang benar”, ungkapnya. Beliau mencermati bahwa informasi tidak benar ini datang tidak hanya dari satu kubu saja akan tetapi dari keduanya. Masa kampanye yang cukup panjang menurutnya mempertajam potensi pemilih mahasiswa semakin banyak terpapar oleh informasi yang tidak benar. Dirinya berharap ke depan masa kampanye dapat dipersingkat. Namun dengan metode pilihan yang tepat. Sehingga mahasiswa dapat semakin tepat dan cermat dalam menentukan pilihannya.

Pemutakhiran Pemilih
Beliau mencatat adanya pemilih yang meninggal dunia masih muncul pada DPS. Kunci dari pemutakhiran data pemilih ini menurutnya harus dilakukan oleh petugas pemutakhiran yang kompeten dan menguasai kependudukan di daerahnya masing-masing. Petugas yang ditunjuk untuk memutakhirkan data pemilih ini seharusnya dipegang oleh masing-masing Ketua Rukun Tetangga. Walaupun menurutnya penyelenggaraan Pemilu di DIY cukup bermartabat hal ini dilihat dari problematika “pemilih siluman” yang sudah tidak terdapati pada proses pemutakhiran data pemilih dalam penyelenggaraan Pemilu di DIY. Tidak seperti yang didengarnya terjadi di kota-kota lain.

Kematangan masyarakat dalam berdemokrasi diharapkannya terus meningkat, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi yang terlaksana dengan matang, tidak dicederai dengan adanya politik uang, peserta Pemilu yang peduli dengan pendidikan politik kepada kader dan konstituennya. Beliau berharap system demokrasi kerakyatan betul-betul dapat terwujud. Dengan Pemilu yang tidak perlu menghadirkan banyak partai politik yang berkontestasi. “ idealnya tak lebih dari 10 Partai Politik, ya.” Rektor bersahaja ini menyatakan dukungan kampusnya selalu dalam penyelenggaraan Pemilu maupun Pemilukada. Dukungannya diwujudkan dalam program KKN tematik kepemiluan. Yang benar- benar diterjunkan untuk mengamati penyelenggaraan Pemilu, ungkap Rektor yang pernah pula bertindak sebagai Pengawas Pemilu pada Tahun 1999 ini.

Profil Tokoh
Pendidikan
S1 Universitas Gadjah Mada – 1985
S2 Universitas Gadjah Mada – 1997
S3 Universitas Padjajaran – 2010

Kiprah di UMY
Kepala Puskom UMY 1987 – 1990
Pembantu Dekan 1 1991 – 1993
Pembantu Rektor 1 2002 – 2006
Direktur Pascasarjana 2011 – 2013
Wakil Rektor 1 2013 – 2017

Penulis : Dewantoputra