Proses Modernisasi Ekonomi Sebagai Prasyarat Utama dalam Demokrasi: Sebuah Refleksi Karya Tatu Vanhanen

Proses Modernisasi Ekonomi Sebagai Prasyarat Utama dalam Demokrasi: Sebuah Refleksi Karya Tatu Vanhanen

Demokrasi telah mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya kondisi zaman. Pasca kemerdekaan, negara-negara telah tumbuh ke era modernisasi meskipun beberapa negara di dunia masih ada yang mengalami konflik dan menghadapi kemiskinan di negaranya. Basis modernisasi ekonomi kemudian telah mempengaruhi berkembangnya demokrasi dalam suatu negara dan masih diperdebatkan hingga kini. Dibawah ini merupakan penjelasan salah satu tokoh yang membahas proses modernisasi ekonomi dalam demokrasi yaitu Tatu Vanhanen, dengan teori evolusi demokrasinya.

Teori Evolusi Demokratisasi

Tatu Vanhanen, Professor Ilmu Politik di Universitas Tampere, Finlandia mengulas kajian komparatif tentang keadaan dan kondisi demokrasi yang ditemukan di 172 negara dengan melakukan penelitian mulai tahun 1850 sampai 1993. Faktor utama dalam kajian yang ditunjukkan oleh Vanhanen adalah tingkat alokasi sumber daya dan bagaimana hal tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan kemunculan demokrasi di negara tertentu. Vanhanen berargumen bahwa ada faktor dominan secara umum yang mendasari prospek demokrasi dalam suatu negara.

Asumsi tersebut diturunkan pada faktor yang secara umum menjelaskan prinsip-prinsip Evolusi Neo-Darwin, dan memberikan gagasan yang menjelaskan bahwa kelangsungan hidup demokrasi harus dikaitkan secara kausal dengan tingkat distribusi sumber daya karena politik merupakan bagian dari perjuangan untuk eksistensi di mana orang cenderung menggunakan semua sumber daya yang ada. Akibatnya, jika sumber daya ekonomi, intelektual, dan sumber daya ekonomi yang relevan secara politis didistribusikan secara luas di antara kelompok-kelompok yang bersaing, keadaan akan menguntungkan bagi munculnya pembagian kekuasaan secara demokratis. Vanhanen berpendapat, demokratisasi berlangsung di bawah kondisi di mana kekuasaan sumber telah menjadi begitu luas didistribusikan bahwa tidak ada kelompok yang lagi mampu menekan pesaingnya atau untuk mempertahankan hegemoninya. (Vanhanen 1984a: 18; 1990a: 50). Vanhanen berpendapat, semakin terdistribusi kekuasaan sumber daya, semakin terdemokratisasi negara itu.

Vanhanen membagi objek penelitiannya pada 172 negara kontemporer yang diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok regional berdasarkan perbedaan geografis dan budaya. Terdapat dua konsep yang diuji untuk mengukur prospek demokrasi yaitu:

1. Tingkat Demokrasi (Level of Democracy)

Variabel politik yang digunakan untuk mengukur adalah:
a. Kompetisi
Ditunjukkan melalui adanya perebutan kekuasaan dan persaingan secara hukum oleh partai-partai yang mengikuti pemilihan parlemen/presiden /keduanya.
b. Partisipasi,
Merupakan persentase jumlah penduduk yang memilih dalam pemilihan. Vanhanen dalam perkembangannya kemudian menggunakan jumlah total populasi untuk mengukur partisipasi karena telah digunakan pada penelitian sebelumnya.

2. Tingkat Distribusi Sumberdaya (Degree of Resource Distribution)

Terdapat enam variabel untuk mengukur aspek distribusi sumber daya yang diasumsikan berlaku untuk semua masyarakat, meliputi:
a. Urban Population (UP)
Semakin tinggi persentase UP, semakin beragam kegiatan ekonomi dan kelompok kepentingan ekonomi yang ada, akibatnya lebih banyak sumber daya kekuatan ekonomi didistribusikan di antara berbagai kelompok.
b. Non Agricultural Population (NAP)
Semakin tinggi persentase NAP, semakin beragam struktur pekerjaan dari masyarakat dan, akibatnya, lebih banyak kekuatan sumber daya ekonomi dan manusia didistribusikan.
c. Students
Semakin tinggi jumlah siswa per 100.000 penduduk, semakin luas sumber daya intelektual didistribusikan.
d. Literates
Jika hanya sebagian kecil dari populasi mampu membaca dan menulis, prasyarat untuk demokrasi jauh lebih tidak menguntungkan daripada di sebuah masyarakat di mana hampir semua orang dewasanya melek huruf.
e. Family Farm (FF)
Daerah keluarga pertanian sebagai persentase dari total luas kepemilikan diasumsikan untuk mengukur distribusi sumber kekuatan ekonomi berdasarkan kepemilikan atau penguasaan tanah pertanian. Semakin tinggi persentasenya, sumber daya kekuatan ekonomi yang didasarkan pada kepemilikan atau penguasaan tanah pertanian biasanya lebih luas didistribusikan.
f. Degree of Decentralization of Non Agricultural Economic Resource (DD) Distribusi sumber daya kekuatan ekonomi diukur secara tidak langsung dengan asumsi bahwa mereka biasanya didistribusikan lebih luas kebanyak kelompok.

Enam variabel diatas digabungkan menjadi Index of Power Resources (IPR). Nilai IPR yang tinggi memprediksi demokratisasi dan kelangsungan hidup struktur demokrasi, sedangkan nilai IPR yang rendah memprediksi bahwa upaya demokratisasi akan gagal.

Vanhanen berpendapat bahwa Teori Evolusi dari Demokratisasi berdasarkan hipotesanya berhasil memberikan penjelasan teoritis untuk keteraturan yang menunjukkan kecenderungan sebagian besar negara melewati ambang batas demokrasi pada tingkat distribusi sumberdaya, berdasarkan analisis yang dilakukan pada penelitiannya.

Vanhanen memprediksi bahwa keseimbangan yang lebih baik antara IPR dan ID akan dicapai dimasa depan, dan dapat dicapai lebih baik apabila ada perubahan dari IPR dan ID. Prediksi utama pada prospek demokratisasi di tujuh kelompok wilayah :
a. Eropa Timur, demokrasi akan bertahan dan stabil;
b. Amerika Latin, demokrasi akan bertahan, meskipun sulit menstabilkan lembaga-lembaga demokrasi;
c. Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, demokrasi baru akan muncul;
d. Sub Sahara Afrika, demokrasi masih sulit dibangun, dan beberapa negara demokratis baru mungkin akan runtuh dalam perjuangan kekuasaan;
e. Asia Selatan, demokrasi akan bertahan, meskipun masih berbahaya karena kemiskinan yang ekstrim di Bangladesh dan Nepal, dan mungkin demokrasi akan muncul di Maladewa;
f. Asia Timur, dan Asia Tenggara, akan menyebrangi ambang batas demokratis dan tekanan untuk demokratisasi akan meningkat di Cina dan Indonesia pada khususnya; dan;
g. Oceania, demokrasi perlu dukungan ekternal untuk kelangsungannya.

Sumber: Prospects of Democracy, A Study of 172 Countries oleh Tatu Vanhanen.
Penulis: Asita Widyasari, Pelaksana pada Sub Bagian Teknis dan Hupmas Sekretariat KPU DIY.