PENANAMAN NILAI KEBANGSAAN BAGI SDM UNGGUL INDONESIA MAJU

Kenal dengan Susilo Nugroho? Mungkin publik tak banyak tahu. Karena pria bersahaja asal Yogyakarta yang leluhurnya merupakan prajurit kraton ini tenar dengan sebutan ‘Den Baguse Ngarso’ karena peran populernya sebagai tokoh antagonis dalam acara Mbangun Deso di TVRI Yogyakarta pada tahun 1990an. Lahir di Yogyakarta, 5 Januari 1959 seorang aktor teater dan pelawak ini asli orang Jogja. Den Baguse sehari-hari pernah mendarmabaktikan dirinya sebagai seorang guru di SMK N 1 Bantul, Yogyakarta. Saat menjadi seorang guru sekaligus menjadi seorang pemain peran yang aktif, tentu saja membuat Den Baguse sangat sibuk. Tetapi, beliau sama sekali tak pernah berniat meninggalkan salah satunya pada saat itu. Saat ini beliau menyatakan baru saja memasuki masa purnatugasnya sebagai guru. Pada satu kesempatan baik yang diberikan, Den Bagus menyampaikan komentar-komentar tentang pentingnya nilai kebangsaan dan Pemilu di Yogyakarta.

Menurutnya, andalan Jogja adalah SDM-nya, karena tidak punya banyak sumber daya lain, seperti tambang, luas wilayah dan sebagainya. Sebagai warga Jogja dirinya bersyukur bahwa sampai dengan saat ini kesadaran SDM di Jogja untuk meningkatkan kebolehan, kapasitasnya dan dalam berperilaku demokratis sudah demikian tinggi dalam segenap aspek sendi kehidupan, semisal pada sektor pendidikan, kebudayaan maupun dalam berdemokrasi. “Kesadaran untuk berperilaku demokratis sudah sangat tinggi, Mas”. Sehingga tema peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia ke 74 yaitu “SDM Unggul Indonesia Maju” sangatlah tepat diterapkan buat Yogyakarta dalam rangka mengisi kemerdekaan. Penyelenggara Pemilu dinilainya juga telah memiliki kompetensi dan kapasitas yang sangat baik dalam menyelenggarakan Pemilu sesuai amanah undang-undang, melebihi rata-rata penyelenggara di daerah lain. Dirinya sangat meyakini hal itu, meski belum pernah melakukan penelitian. Meski begitu, Den Bagus masih menyoroti minimnya pemberitaan atau sosialisasi tentang hasil penyelesaian sengketa yang telah dimenangkan oleh KPU DIY. Beberapa permasalahan yang terjadi di tingkat DIY, sebetulnya telah dapat diselesaikan dengan baik. KPU DIY sebagai penyelenggara, telah dinyatakan tidak melanggar ketentuan oleh lembaga yang berwenang memutus sengketa permasalahan Pemilu. Artinya pihak penyelenggara di DIY sebenarnya telah melaksanakan ketugasannya dengan baik. Hal itu menurutnya tetap harus disampaikan kepada masyarakat. Publik harus mengerti, hal itu penting untuk dilakukan agar opini masyarakat terkait penyelenggaraan Pemilu di DIY tetap terjaga baik. Karakter masyarakat di DIY yang “pendiam” perlu informasi akan hal itu. Agar kepercayaan terhadap sebuah penyelenggaraan Pemilu tidak luntur di masa depan. Selain itu, pihak-pihak yang kalah dalam kontestasi juga perlu disadarkan untuk tidak asal menuntut karena dengan pemberitaan itu, publik juga akan mengetahui seluruh proses penyelesaian permasalahan. “ Saya pikir sangat perlu menjaga opini pemilih agar tidak kehilangan greget pada Pemilu, penyelenggaraan yang baik harus berani diumukkan..jangan disimpen, saya yakin KPU DIY tidak menyembunyikan sesuatu kok..” ungkap pria lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta ini. Setelah itu, KPU DIY juga harus berani lebih menampilkan seluruh sosok penyelenggara di dalamnya, siapa orang-orang didalamnya, bagaimana rekam jejak dan keunggulan-keunggulannya maupun pengenalan lembaga KPU DIY itu sendiri guna semakin menambah kepercayaan publik.

SDM CALON ANGGOTA LEGISLATIF PADA PEMILU
Memandang partisipasi politik seluruh lapisan masyarakat di DIY, pendidik dan seniman yang sudah mulai terjun dalam seni peran sejak duduk di bangku SLTA pada tahun 1977 ini memandang upaya pengenalan calon secara menyeluruh masih perlu ditingkatkan. Hal ini menjadi kewajiban partai politik untuk mempromosikan kader-kadernya sebelum dicalonkan maupun KPU sebagai penyelenggara setelah resmi dicalonkan. Pengenalan ini akan lebih membangkitkan partisipasi masyarakat untuk turut berperan pada seluruh tahapan Pemilu. Hal ini juga akan dibutuhkan untuk menentukan pilihan yang terbaik. KPU dengan sistemnya telah mengembangkan informasi biodata calon, namun menurutnya pengenalan calon dengan metode bertatap muka langsung dengan pemilih masih sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kompetensi dan kapasitas calon secara lengkap. Dirinya mengusulkan ke depan dilakukan inisiatif pengenalan calon yang dibagi per daerah pemilihan. Hal ini masih sangat mungkin untuk diwujudkan di Yogyakarta yang secara luas wilayah masih relatif kecil, mudah dan terjangkau. Berbeda dengan pengenalan visi dan misi sebuah partai politik peserta Pemilu, masyarakat pemilih juga sangat perlu mengetahui seluruh latar belakang untuk menakar kualitas calon yang akan menyuarakan kepentingannya. Pemilu maupun Pilkada harus dapat menampilkan calon-calon yang baik. Calon yang baik menurutnya adalah calon yang telah benar-benar mengenal daerahnya, punya strategi maupun konsep yang jelas untuk menyelesaikan segala problematika di daerahnya, sehingga mempercepat perbaikan menyeluruh bagi masyarakat.

KEBANGSAAN DAN PEMILU
Sebagai bagian dari seniman Yogyakarta, pendiri Teater Gandrik yang sering menjadi pemeran utama ini merasa sangat tertarik untuk mengulas hal ihwal kebangsaan bahkan pada setiap pertunjukkan keseniannya. Melalui media kesenian, penanaman nilai-nilai kebangsaan akan lebih cair, menarik dan efektif. Pelaku seni yang baik menurutnya, cenderung merasa bertanggung jawab tidak hanya kepada hal-hal yang teknis akan tetapi lebih kepada memberikan semacam impresi yang berguna dalam jangka panjang, “Indonesia harus betul-betul Merdeka lho, artinya ya Mandiri tenan” seperti itu misalnya, sehingga akan tertanam nilai-nilai kebangsaan. Selama ini dirinya menyatakan tidak pernah tertarik untuk terlibat memenangkan satu pihak tertentu. Akan tetapi dirinya menyatakan kesanggupannya manakala dibutuhkan untuk menanamkan nilai-nilai pentingnya Pemilu bagi masyarakat. Dengan tertanamnya nilai-nilai kebangsaan dirinya meyakini target penanaman nilai-nilai pentingnya Pemilu dapat tercapai pula.” Cinta tanah air akan selalu tumbuh” ungkapnya yakin. Seniman sangat dibutuhkan peranannya untuk menjaga dan merawat budaya sebagai bagian penting dari nilai kebangsaan. Budaya di DIY sangat perlu dijaga agar pariwisata yang menjadi salah satu andalannya dapat selalu diperhitungkan di dunia. Selain itu, dengan terjaganya budaya di Yogyakarta akan memberitahukan secara luas kepada masyarakat Yogyakarta bahwa peranan setiap pihak sudah sangat tinggi di segenap aspek kehidupan. Budaya demokratis humanis sudah ada di Yogyakarta sejak jaman dahulu. Hal ini terlihat dari sejarah kepahlawanan Siti Aisyah, seorang remaja pelajar setingkat SMP kejuruan yang menurunkan bendera Jepang dan mengibarkan bendera merah putih pada 5 Oktober 1945 tanpa terjadinya pertumpahan darah. Budaya emansipasi dan suksesi pemimpin wanita juga terlihat dalam sejarah di Yogyakarta sejak jaman dahulu. Dirinya menyatakan bahwa telah mendapatkan banyak referensi tentang pemimpin wanita yang ada pada sejarah Yogyakarta, meski catatan-catatan sejarah itu tidak cukup populer dan mudah ditemukan. Dengan mengetahui itu, maka budaya demokrasi yang aman, dan peranan wanita dalam sebuah Pemilu di Yogyakarta mutlak dapat diwujudkan. Sehingga tidak harus lagi diatur kuota minimal terhadap calon perempuan.
Ketika Den Bagus ditanya lebih senang disebut sebagai seniman atau pendidik dirinya menjawab ”saya lebih senang kalo disebut orang” tutup candanya.

Penulis : Dewantoputra Adhipermana