KOMITMEN PROTOKOL KESEHATAN DALAM PEMILIHAN SERENTAK 2020

KOMITMEN PROTOKOL KESEHATAN DALAM PEMILIHAN SERENTAK 2020

Oleh: Anggota KPU DIY (Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM) Ahmad Shidqi

diy.kpu.go.id – Pasca-pelaksanaan tahapan pendaftaran bakal pasangan calon dalam Pemilihan serentak tanggal 4-6 September 2020 lalu, muncul kekhawatiran dari banyak pihak bahwa Pilkada akan menjadi kluster baru bagi penyebaran Covid-19.

Kekhawatiran tersebut tentu sangat beralasan karena dalam proses pelaksanaan pendaftaran bakal pasangan calon yang berlangsung selama 3 hari itu telah mengikut sertakan sejumlah massa pendukung untuk hadir ke kantor KPU daerah. Akibatnya, terjadi kerumunan massa dalam jumlah besar sehingga berpotensi menjadi arena baru bagi penyebaran Covid-19.

Pada dasarnya, semua tahapan penyelenggaraan pemilihan serentak 2020 sudah diatur dengan menyesuaikan pada protokol pencegahan Covid-19. Bahkan sejak awal protokol kesehatan tersebut menjadi syarat mutlak yang diajukan KPU ketika Pemerintah dan DPR mendesak agar pemilihan dilanjutkan kembali pasca penundaan selama 3 bulan.

Karena itu, begitu Perppu Nomor 2 Tahun 2020 menegaskan bahwa pemilihan serentak dilanjutkan dengan pemungutan suara di bulan Desember 2020, maka KPU kemudian secara sigap mengeluarkan Peraturan KPU Nomor 6 Tahun 2020 jungto Nomor 10 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pemilihan di tengah pandemic Covid-19. Di dalam kedua regulasi tersebut, semua tahapan pemilihan serentak 2020 diatur secara rinci dengan menggunakan protocol covid 19.

Lalu pertanyaannya kemudian, kenapa dalam tahapan pendaftaran calon kemarin masih terdapat kerumunan massa yang berpotensi terjadinya penyebaran Covid-19?

Tahapan pendaftaran calon tersebut sebenarnya bukan tahapan pertama dalam pemilihan serentak 2020. Jauh hari sebelumnya KPU juga telah melaksanakan sejumlah tahapan pemilihan di tengah kondisi Covid-19 ini, yaitu; pemutakhiran data pemilih dan verifikasi syarat dukungan calon perseorangan.

Menariknya, dalam pelaksanaan kedua tahapan tersebut semua pihak dapat mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh KPU, seperti selalu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Padahal, dalam melaksanakan kedua tahapan tersebut, khususnya dalam pemutakhiran data pemilih melalui metode coklit, KPU melibatkan ribuan personel untuk turun ke lapangan dan berkunjung ke rumah-rumah warga untuk memastikan tidak ada warga negara yang sudah punya hak pilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih.

Puji syukur, selama sebulan tahapan coklit berlangsung tidak ditemukan kasus infeksi Covid-19 dari pelaksaaan tahapan ini. Bahkan dari kesuksesan pelaksaan coklit dengan menggunakan protokol kesehatan tersebut kemudian menumbuhkan optimisme dari sejumlah kalangan terhadap keberhasilan pelaksanaan pemungutan suara 9 Desember 2020 nanti meskipun dalam suasana Covid-19.

Namun optimisme publik di atas seketika juga ambyar begitu melihat proses pendaftaran bakal pasangan calon kemarin. Penyebabnya adalah karena sebagian besar bakal pasangan calon dalam melakukan pendaftaran ke kantor KPU daerah diikuti dan diiringi oleh massa pendukungnya.

Meskipun sebenarnya bakal pasangan calon yang masuk ke ruang pendaftaran kantor KPU daerah saat itu -selain memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak- juga sudah membatasi hanya didampingi oleh ketua dan sekretaris partai politik pengusung, perwakilan tim kampanye dan penghubung sebagaimana diperintahkan oleh PKPU No.6 Tahun 2020, namun tidak dapat dipungkiri bahwa di luar ruangan kantor KPU daerah para pendukungnya ikut hadir dengan jumlah yang tidak sedikit sehingga menimbulkan kerumunan massa yang berpotensi menjadi media penyebaran Covid-19.

Padahal sudah jelas dalam PKPU No.6 Tahun 2020 pasal 8 point e dan pasal 9 point h dengan tegas menyebutkan agar pihak-pihak yang tidak berkepentingan dalam penyampaian berkas tersebut dilarang hadir dan atau berkerumun di tempat penyerahan berkas.

Namun tampaknya ketentuan tersebut belum sepenuhnya terimplementasi dengan baik di lapangan sehingga tahapan pendaftaran bakal pasangan calon di awal September lalu diwarnai oleh kerumunan massa yang cukup mengkhawatirkan masyarakat.

Oleh sebab itu, dari peristiwa pendaftaran bakal pasangan calon tersebut kita perlu mengevaluasi serta menegaskan kembali terhadap komitmen kita, khususnya para peserta pemilihan dalam menerapkan protokol kesehatan dalam melaksanakan pemilihan serentak 2020.

Penegasan komitmen ini penting agar pemilihan serentak yang sudah separoh jalan dan menelan biaya yang tidak sedikit ini tidak menjadi potensi klaster baru bagi penyebaran Covid-19 yang sampai dengan hari ini masih belum menunjukkan grafik yang menurun, bahkan semakin tinggi dan tidak terkendali.

Ke depan masih ada beberapa tahapan penting lainnya yang akan kita laksanakan di tengah Covid-19 ini. Kelancaran pelaksanaan semua tahapan tersebut, termasuk dalam penerapan protokol kesehatan ini, menjadi tanggungjawab bersama untuk terus ditegakkan secara disiplin sehingga pemilihan serentak 2020 berlangsung secara sehat dan masyarakat juga selamat. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Komitmen Protokol Kesehatan Dalam Pemilihan Serentak 2020, Senin, 14 September 2020 https://jogja.tribunnews.com/2020/09/14/komitmen-protokol-kesehatan-dalam-pemilihan-serentak-2020.

Editor Tribur Jogja : Ribut raharjo