Jejak Gen Z dalam Pilkada 2020 di Wilayah DIY

Jejak Gen Z dalam Pilkada 2020 di Wilayah DIY

Kita ketahui bersama bahwa arti penting diselenggarakannya pemilu adalah sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat, dengan pemilu proses pergantian kekuasaan dilakukan secara damai dan bermartabat. Dengan pemilu rakyat dapat memberikan reward dan punishment kepada para pemimpin yang telah diberi amanah melalui pemilu. Meskipun pemilu memiliki arti penting dalam keberlangsungan negara dan pemerintahan, dalam perbincangan sehari-hari kita masih menemukan kesan bahwa pemilu itu adalah urusan orang-orang tua, meskipun sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, WNI yang telah genap berusia 17 tahun atau pernah kawin memiliki hak pilih. Akan tetapi seolah olah muncul anggapan bahwa pemilu itu sesuatu yang jauh dari jangkauan generasi muda dan bukan menjadi kepentingan generasi muda, khususnya kelompok generasi yang sekarang disebut sebagai Generasi Z atau Gen Z.

Merujuk ke id.wikipedia.org Gen Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1997 sampai dengan tahun 2012 masehi. Namun ada pula yang menyebutkan Gen Z lahir antara rentang tahun 1995 sampai dengan 2010 (https://www.merdeka.com/). Dalam kerangka pemilu, Gen Z secara sederhana dapat kita maknai sebagai pemilih dalam rentang usia 17 tahun hingga 24 tahun. Gen Z merupakan generasi peralihan Generasi Milenial dengan teknologi yang semakin berkembang. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Milenial, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset.

Dalam tulisan sederhana ini, penulis ingin menyajikan data bahwa dalam penyelenggaraan Pilkada tahun 2020 yang diselenggarakan di Kabupaten Bantul, Gunungkidul dan Sleman peran Gen Z sangatlah besar dan strategis. Peran tersebut terbagi menjadi dua yaitu sebagai pemilih dan sebagai penyelenggara Pilkada Ad Hoc. KPU DIY mencatat bahwa pada saat Pilkada 2020 jumlah pemilih dari kalangan Gen Z adalah sejumlah 306.400 orang dari jumlah pemilih secara keseluruhan 2.097.463 orang. Angka ini setara dengan 14% dari jumlah pemilih. Untuk melihat peran dan perilaku pemilih Gen Z ini perlu kita lihat hasil penelitian Basuki Rahmat dan Esther (2016) yang menunjukkan bahwa pemilih pemula memilih seorang kandidat dengan melihat program yang ditawarkan kandidat, juga melihat prestasi, keberhasilan, serta kapasitas kepemimpinan yang dimiliki dari seorang kandidat. Namun, rasionalitas yang mereka tunjukkan pula tidak lepas dari faktor sosiologis. Dimana informasi yang didapatkan atau diterima pemilih pemula lebih dominan berasal dari argument atau pendapat orangtuanya yang kemudian membentuk perilaku rasional. Melihat hal ini bisa kita asumsikan bahwa Gen Z memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas Pilkada dengan menjadi pemilih yang rasional. Di sisi lain, meski perlu penelitian lebih lanjut ditengarai Gen Z memiliki peran terhadap meningkatnya tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2020 di 3 (tiga) dalam wilayah DIY mengingat tahapan Pilkada 2020 diselenggarakan saat masa pandemi Covid 19 dimana penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan-kegiatan pilkada menjadi keniscayaan. Kondisi yang menjadi habitat bagi Gen Z.

Selain tercatat sebagai pemilih yang strategis, Gen Z juga tercatat sebagai penyelenggara pemilu Ad Hoc saat Pilkada tahun 2020 di wilayah DIY. Partisipasi Gen Z sebagai anggota Badan Ad Hoc tersebar di tingkat PPK (kecamatan/kapanewon), PPS (desa) dan KPPS (TPS). Jumlah Gen Z sebagai anggota Badan Ad Hoc tertuang dalam Tabel 1. berikut:

Tabel 1.

Badan Ad Hoc
BADAN AD HOC JUMLAH Gen Z %
PPK 260 25 10%
PPS 915 181 20%
KPPS 42.770 10.827 25%
Sumber: KPU DIY

Berdasarkan Tabel 1. diatas dapat kita lihat bahwa 10% dari anggota PPK merupakan anak muda dari Gen Z. Di tingkat PPS 20% anggotanya merupakan Gen Z. Yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa 25% anggota KPPS yang bertugas di TPS merupakan Gen Z. Dengan catatan rentang usia Gen Z sebagai Badan Ad Hoc adalah usia 17 tahun hingga 25 tahun (menyesuaikan dengan regulasi batasan usia Badan Ad Hoc). Meski demikian data ini menunjukkan bahwa keberhasilan Pilkada Serentak Tahun 2020 tak lepas dari peran kalangan muda dari Gen Z.

Melihat data-data diatas kita bisa melihat jejak terbaik Gen Z dalam Pilkada 2020 khususnya di 3 Kabupaten di DIY baik sebagai pemilih maupun sebagai penyelenggara Ad Hoc. Meskipun masih ada tantangan untuk meningkatkan kualitas asupan informasi pemilu bagi Gen Z agar menggunakan hak pilihnya secara mandiri dan bertanggungjawab. Dari aspek penyelenggaraan ini memberikan angin segar regenerasi penyelenggara pemilu serta penggunaan teknologi informasi dalam pemberian dan penghitungan suara agar Pemilu bisa lebih efektif dan efisien, tanpa mengurangi pentingnya integritas dan profesionalitas penyelenggara pemilu.

Penulis: Wawan Budiyanto (Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta)