PEREMPUAN BERDAYA, INDONESIA MAJU

PEREMPUAN BERDAYA, INDONESIA MAJU

Mengapa pada peringatan hari Ibu ke-91 Tahun 2019 mengambil tema “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju“ ? Pastinya, pemilihan tema peringatan Hari Ibu ke-91 Tahun 2019 tersebut tentu saja bukan tanpa maksud dan tujuan.

Pada Pidato pengangkatan Joko Widodo sebagai Presiden RI yang lalu, dicanangkan 5 (lima) Prioritas Kerja Kabinet Indonesia Maju, dimana prioritas ke-2 adalah Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dilaksanakan melalui program dan kegiatan menjamin kesehatan ibu hamil dan anak usia sekolah serta meningkatkan kualitas pendidikan dan manajemen talenta, yang tentu saja ada peran perempuan cukup besar di dalamnya. Kita sadari bersama, bahwa secara umum sampai saat ini Indonesia masih dihadapkan pada 3 (tiga) masalah utama yang menjadi tantangan dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu kasus perceraian yang disebabkan karena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), stunting dan perdagangan manusia. Dalam hal ini tentu peran keluarga menjadi salah satu yang diharapkan dapat menjadi bagian utama dan pokok untuk mencegah terjadinya kekerasan melalui penanaman nilai-nilai, karakter, dan budi pekerti. Dari kondisi itulah maka tahun ini diharapkan menjadi titik awal bagi terwujudnya gerakan pemberdayaan dan perlindungan perempuan, sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo, terkait prioritas pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Hari Ibu yang kita peringati setiap tahun, pada setiap tanggal 22 Desember dimulai dari pergerakan perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia dalam Kongres Perempoean Indonesia pertama kali, yang dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 1928, di Yogyakarta. Bagi sebuah bangsa yang saat itu belum merdeka, pertemuan tersebut dapat dikatakan sangat progresif. Karenanya, peringatan Hari Ibu setiap tahun merupakan bentuk perwujudan penghargaan dalam mengenang dan menghargai perjuangan perempuan Indonesia yang telah ikut berjuang merebut dan mengisi kemerdekaan. Setiap kali kita memperingati hari Ibu, diharapkan senantiasa mampu menggugah ingatan dan pemikiran kita bahwa perjuangan kaum perempuan Indonesia ternyata sangat dirasakan manfaat dan hasilnya, terutama oleh kaum perempuan Indonesia pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kita tidak bisa lagi berpikir kaum ibu hanya mengurus urusan rumah tangga, sehingga kaum ibu justru harus berdaya dan banyak terlibat dalam pendidikan dan ketahanan ekonomi keluarga.

Sesuai dengan arahan Bapak Presiden RI, setidaknya ada 5 (lima) isu prioritas yang harus dilakukan untuk mewujudkan pemberdayaan perempuan sesuai tema peringatan Hari Ibu tahun ini, yaitu peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan, peningkatan peran keluarga dalam pendidikan anak, penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penurunan pekerja anak dan pencegahan perkawinan anak. Perempuan Indonesia masa kini dituntut untuk berperan aktif mencari peluang dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang pembangunan. Perempuan memiliki hak asasi yang sama dan integral dengan hak asasi manusia. Apabila Perempuan berdaya, dalam arti peran perempuan dalam sektor perekonomian meningkat, maka akan menjadi pendorong terwujudnya peningkatan kualitas hidup perempuan, diikuti dengan terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas sehingga Indonesia akan maju.

Kuota minimal 30 persen keterwakilan perempuan di DPR merupakan affirmative action yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang, dimaksudkan agar kaum perempuan Indonesia dengan segala potensi dan kemampuan masing-masing mampu memberikan sumbangan pemikiran, ide dan gagasannya secara nyata dalam pembangunan Indonesia. Harus diakui bahwa perjuangan untuk meningkatkan peranan dan kedudukan kaum perempuan Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih cukup panjang, namun keberhasilan yang telah dicapai selama ini tetap harus mendapat apresiasi dan merupakan langkah awal dalam mewujudkan perempuan Indonesia yang benar-benar berdaya, dalam arti kaum perempuan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna hasil pembangunan, namun juga ikut berperan melaksanakan dan berpartisipasi di segenap aspek pembangunan nasional. Perempuan dan laki-laki adalah partnership sekaligus sumber daya insani yang menentukan keberhasilan pembangunan nasional. Perempuan mempunyai posisi yang lebih dekat dengan keluarga dan telah menggunakan sebagian besar waktunya untuk keluarga, anak maupun sanak keluarga dan orang tua, sehingga kaum perempuan akan lebih terdukung apabila perempuan memperoleh akses, memperoleh kesempatan mengembangkan potensinya, sepanjang diberikan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Bukankah seorang ibu yang kuat, akan menciptakan generasi kuat, generasi cerdas dan generasi hebat. (Retno Setijowati)